Thursday, July 24, 2008

Nikmat...begitu banyak yang telah terlewatkan tanpa mensyukurinya

Oleh Bunda Shafiya

Saat itu kami; aku, bapak dan Shafiya sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah. Kami baru saja pulang dari menikmati semangkuk Soto Lamongan Cak Har *slruup* yang terkenal itu. Tepat di traffic light menuju ke arah Margorejo, mobil berhenti karena traffic light menunjukkan warna merah. Aku melayangkan pandangan ke seberang jalan. Nampak olehku sosok ibu pengemis dan anaknya yang sedang mesra bersenda gurau. Si anak rupanya haus dan alhamdulillah saat itu sang ibu ada rezeki untuk membelikan sekantung plastik es teh bagi si anak.

Dengan penuh rasa kasih sayang kantung plastik es teh itu dibuka dari ikatannya dan diminumkan ke si anak dengan menggunakan sedotan. Tampak si anak sangat menikmatinya, kehausan barangkali. Setelah si anak puas, ibu itu pun mencicipi es teh itu sedikit dan ternyata walaupun es teh itu hanya bersisa sangat sedikit, mungkin hanya satu tegukan lagi sisanya, sang ibu itu tetap menyimpan sisa itu dengan hati-hati dengan mengikat kembali kantung plastik es teh itu.. Subhanallah! Betapa orang seperti mereka sangat menghargai dan mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada mereka serta menjaganya dengan sangat hati-hati.


Dadaku terasa sesak, bersamaan dengan itu air mata mulai menetes.. Teringat akan percakapanku dengan Shafiya di depot soto itu, "Nak, udah deh, ice tea-nya nggak usah dihabiskan. Ayo.. cepetan, Bapak sudah menunggu di mobil." Betapa bodohnya aku yang malah mengajarkan anakku untuk berbuat suatu hal yang mubazir yang mencerminkan rasa tidak bersyukur padaNya. Astagfirullah.

Bagi orang lain, peristiwa ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Tapi saya memaknainya lain. Alhamdulillah.Allah memberi saya petunjuk untuk selalu mensyukuri nikmatNya dalam ketaatan kepadaNya. Syukur Alhamdulillah. Ibu pengemis itu telah mengajarkan kepada saya cara untuk menghargai nikmatNya.

Fabiayyi aalaa rabbikumaa tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang engkau dustakan? Pertanyaan retoris ini membuat saya tertunduk malu tiap kali mendengarnya. Betapa tidak! saya sering kali iri dengan nikmat yang ada pada orang lain. Saya memang tidak pernah sampai dalam tahap merasa dengki dan menginginkan agar nikmat orang lain itu hilang. Naudzubillah min Dzalik.. Tapi rasa iri saya membawa saya menjadi orang yang kufur nikmat. Padahal Allah selalu baik kepada saya. Dalam studi dan karir insya Allah saya selalu lancar. Ketika saya berdoa agar mendapat pendamping hidup yang sholeh, Allah dengan cepat mengabulkan permintaan saya. Ketika saya berdoa agar dikarunai anak yang menyejukkan pandangan orang tuanya, Allah dengan berbaik hati mengabulkan permohonan saya itu.. Namun.dari banyak nikmat yang ada, sedikit sekali saya mampu menyentuhkan dahi bersujud pada Allah untuk menyampaikan rasa terima kasih saya.

Nikmat.. begitu banyak yang saya lewatkan tanpa mensyukurinya. Ya Allah.. janganlah golongkan saya menjadi orang-orang yang merugi karena kufur terhadap nikmatMu... (Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan keduanya tunduk kepadaNya. Dan Allah meninggikan langit dan Dia melektakkan neraca keadilan. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan jangan kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluknya, di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bungaan yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (Surat Ar Rahman: 1-13)

Hati Yang Lembut

Oleh Adi Junjunan Mustafa

Sudah sekitar empat tahun saya mengenalnya. Pembawaannya amat tenang. Akan tetapi senyum lembut senantiasa tersungging setiap kali ia mendapatkan kabar gembira dari sahabat-sahabatnya. Sesekali senyum lebar ia tebarkan, ketika salah seorang sahabatnya menyampaikan cerita lucu. Ya, senyum lebar saja dengan suara yang rendah. Tak pernah ada tawa nyaring keluar dari mulutnya. Ia bukanlah seorang orator. Bahkan ia seorang yang amat pendiam. Sepertinya setiap kalimat yang ia ucapkan telah melalui perenungan yang mendalam. Tak ada yang ia katakan kecuali kalimat yang bermanfaat.

Ada satu waktu pada masa perkenalan, di mana saya merasa tidak bisa bersabar dengan sifat pendiamnya. Waktu juga yang membuka hati saya untuk mengenalnya lebih dekat. Pada diamnya saya seolah menemukan pesan Rasulullahu saw: ”Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.”

Saya tidak menemukan sifat “senang tampil” pada dirinya. Jika duduk pada sebuah majelis, maka ia lebih cenderung duduk di belakang. Ketika dimintakan untuk berbicara pada forum umum, selalu saja ia cenderung mempersilakan yang lain terlebih dahulu. Ketika dalam halaqah tarbiyah (lingkaran pengajian Islam) diadakan evaluasi tentang prestasi kerja profesi masing-masing peserta, ia cenderung menyembunyikannya. Kalau bukan karena tuntutan muhasabah kerja da’wah, saya yakin ia tidak akan pernah menceritakan prestasinya. Akan tetapi, ketika ada tugas-tugas da’wah dilimpahkan kepadanya, ia akan laksanakan tugas-tugas itu tanpa pernah ada protes sedikitpun.

Begitu mudah ayat-ayat Quran menyentuh lubuk hatinya. Suaranya selalu bergetar ketika ia membaca ayat-ayat Quran. Tidak jarang saya melihat matanya berkaca-kaca dan menangis pada saat bertilawah atau ketika sedang saling mengecek hafalan Quran. Menyaksikan kelembutan hatinya terhadap Quran mengingatkan saya pada ucapan Aisyah ra ketika Nabi Muhammad saw meminta Abubakar ash-Shiddiq ra. mengimami kaum muslimin saat beliau sakit, ”Ya Rasulullah janganlah Abubakar diminta mengimami, sebab ia gampang menangis kalau membaca Quran.”

Salah satu rangkaian ayat yang saya duga amat menyentuh hatinya adalah: “Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa. (QS. 53:31-32). Pada satu tadzkirah singkatnya saya amat merasakan pesan yang kuat menghujam ke dalam hati,” … maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.”

Barangkali pesan itulah yang senantiasa ia bisikan ke dalam jiwanya sendiri, sehingga ucapannya dengan nada rendah terdengar nyaring pada hati saya. Ketika ada sahabatnya yang ditimpa duka, ia dengarkan dengan seksama kisahnya. Lalu tampaklah wajahnya menyimpan duka yang sama. Lalu ia akan berikan bantuan sebesar yang ia bisa berikan, terkadang dengan bantuan yang amat besar. Sahabat yang dibantunya sedikitpun tak merasakan perubahan sikapnya setelah ia membantu. Seolah tak ada kejadian apapun yang telah terjadi. Dan seolah ia ingin mengucapkan,“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (QS. 76:9-10) ***

Ya Allah, berikanlah kebaikanMu kepadanya. Peliharalah ia dalam keimanan yang istiqamah. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mempertemukan saya dengan sahabat-sahabat yang baik, maka jadikanlah saya bagian dari mereka. Ya Allah, apapun kenikmatan yang sampai kepada saya atau kebaikan dari salah seorang ciptaanMu, maka itu semua dariMu semata; Tiada sekutu bagiMu. Maka bagimu segala pujian dan bagimu segala ungkapan terima kasih.


Chiba, 19 Muharram 1427

Obat Anti Dendam

Baru baru ini pakar ilmu kesehatan telah menemukan obat yang paling mujarab untuk mengatasi dendam kesumat,yang disebabkan oleh sakit hati, pusing karna melihat orang bahagia dan penyakit hati lainnya.dapatkan segera obatnya di pasaran


AWas Tiruaan!!!!!!!!!!!!! ni contoh obat yang asli :



Baca aturan pakai, jika sakit berlanjut..hubungi RSJ Terdekat

Friday, July 18, 2008

Perintis Galery Team



walopon dengan pose yang berantakan, kita tetep semangat foto2 nya


wah temen2 tetep semangat ya foto2 nya, dengan gaya2 nya masing



duch kok nggak kerasa ya pak di foto nya, lagi dunk pak sampe kerasa



Ini nyata ada nya Indosat Galery Medan , Yessssssssssssssssssssssssssssss

Sunday, July 6, 2008

Matay Kita Resign


Matay Kita, kata kata ini sering di ucapkan oleh rekan kerja ku, namanya Pai,setiap kali ada guyonan bareng temen2 cs, kata "matay kita" selalu tak ketinggalan, dan ini khasnya obrolan dengan pai, dan ini sudah menular bagaikan virus dan mulai sering gi gunakan temen2 di galeri.
ntah knapa awak cedih si matay kita ni resign,seharusnya awak bangga karna teman awak dapet kerjaan nya yang lebih baik lagi.mungkin karna setiap ada pai selalu ada aja guyonan lucu.pastinya aq bangga jadi kakak buat adek awak yang satu ni,ooo iya sukses ya pai di tempat kerja yang baru.moga silaturrahmi tetep terjaga walopon kita nggak sekantor lagi n jangan lupa kok ma kakak2 mu di perintis.

pai resign meninggalkan case ,tapi dah solve kok pai case pak pollah
ntar klo di tempat yang baru jangan suka buat notes " biar file ini tinggal awak ya kak" hahahhahahahhaha